Buku: An-Nas (Seri Al-Qur'anku Keren)
Karya: Bambang Q-Anees
- Al-Quran itu suci, berisi kata-kata Allah. Al-Quran adalah kata-kata mutiara yang menunjukkan kasih sayang Allah pada diri kita.
- Kamu bisa saja membacanya tanpa berwudhu' dulu, namun yang kamu lakukan hanya mengeja huruf-hurufnya. Al-Quran bukan sekadar bacaan, kamu harus ingat, bukan sekadar bacaan biasa! Al-Quran bisa memberikan berkah bagi pembacanya. Berkah berarti "bertambahnya kebaikan" dan "bertambahnya manfaat", jadi Al-Quran bisa memberikan banyak manfaat dan kebaikan pada kamu. Berkah Al-Quran bisa kamu dapatkan bila kamu berwudhu.
- Berwudhu’ yang dilakukan dengan baik, merenungi kesalahan yang telah diperbuat akan membuat kamu suci. Maksudnya, dengan menyadari kesalahanmu dan berjanji akan terus memperbaikinya, saat itu kamu akan menjadi bersih dan bening seperti cermin. Kalau cermin sudah bening, ia akan bisa memantulkan gambar yang jelas dan indah. Ketika kamu membaca Al-Quran, kamu sedang berhadapan dengan surat cinta dari Allah buat kamu. Surat cinta itu akan terpantul jelas bila cermin hatimu sudah bening. Dengan cara itu kamu jadi paham apa yang diinginkan surat cinta itu. Berwudhu’ adalah cara kamu membeningkan diri agar seluruh isi Al-Quran dapat diterima dengan jelas oleh hatimu...
- Manusia itu untuk menangkap berkah dari Al-Quran, kita nggak perlu mengganti tubuh ini dengan tubuh yang itu. Uniknya lagi, nggak usah beli antena parabola dan decoder lalu memasangkannya ke tubuh ini. Antena parabola dan decodernya sudah ada dalam diri ini,tinggal mengaktifkannya. Hati kita adalah antena parabola yang menangkap gelombang kasih sayang Allah dalam Al-Quran, sedangkan pikiran suci atau fuad adalah deco-dernya. Hati yang bersih menjadi cermin yang me-mantulkan surat cinta dari Allah, lalu surat cinta itu diubah menjadi makna dan pemahaman tertentu oleh fuad. Nah.. Hati dan fuad itu sudah kita miliki, tinggal diaktifkan saja. Salah satu cara mengaktifkannya adalah dengan membersihkannya, membuatnya jadi suci. Berwudu adalah cara membersihkan keduanya.
- Bagi psikolog, kesurupan merupakan gejala gangguan jiwa yang disebut disosiasif. Disosiasif adalah kecemasan yang meluap hebat tapi ditekan sedemikian rupa oleh alam bawah sadarnya. Misalnya kamu merasa marah pada seseorang, kemudian kemarahan itu kamu tekan terus-menerus. Makin lama pikiranmu nggak bisa lagi menekan kemarahan itu. Setelah pikiranmu nggak mampu menampung kemarahan itu, maka secara nggak sadar kamu akan berteriak atau marah-marah nggak karuan. Kamu seperti bendungan yang pecah, semua isi kemarahan yang semula disimpan keluar tanpa sadar. Kamu akan marah-marah secara nggak jelas, mengamuk atau bahkan tertawa-tawa. Semuanya karena diri kamu sudah nggak sanggup lagi menahan kemarahan. Lebih dari marah, menangis, tertawa, atau meronta-ronta, kadang-kadang muncul kepribadian ganda pada dirimu. Misalnya, tiba-tiba kamu bisa menirukan suara orang tua atau anak kecil, menirukan perilaku binatang, bahkan ada yang mendadak bisa berbahasa China. Tapi kalau didengarkan serius, bahasa China yang diucapkan itu belum tentu benar. Inilah yang disebut dengan possession trans yaitu suatu perubahan keadaan kesadaran seseorang dalam bentuk pergantian identitas pribadi dengan identitas baru. Pada saat terjadi pergantian identitas ini, orang yang kesurupan memiliki perilaku yang aneh dan asing. Dan akan tampak semakin mengerikan, ketika yang kesurupan meronta-ronta atau melototkan matanya. Tapi bagaimana dengan gejala-gejala aneh seperti tiba-tiba memiliki kekuatan luar biasa, orang orang biasanya langsung menyimpulkan bahwa tenaganya itu dibantu oleh kekuatan setan dan iblis. Apakah kekuatan dahsyat itu juga dari diri seseorang, padahal kalau sedang normal orang itu sangat lemah? Memang begitulah kehebatan manusia, ada banyak kejadian yang menunjukkan bagaimana hebatnya tenaga manusia pada saat ia nggak sadar. Orang yang lari ketakutan bisa meloncati tembok 5 meter, atau ibu-ibu yang panik karena rumahnya kebakaran tanpa sadar bisa membawa kulkas. Begitupun pada saat kesurupan, kemarahan atau kekesalan yang dipendam akan membuat seseorang memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan yang biasa dipunyainya sehari-hari. Kadang-kadang ia bertindak kasar lari-lari dan melempar orang sekitarnya, berteriak dan berbicara nggak karuan, dan dia pun mengalami xenolalia (berbicara bahasa asing yang dia nggak tahu sebelumnya). Itu hanya sementara saja sebab beberapa lama kemudian tanpa perlu dipegang keras atau dihimpit ia akan mulai berhenti. Lalu setelah siuman ia lupa semua atau sebagian kejadian baru saja dialaminya. Ia mengalami gejala amnesia. Kalau itu cuma gejala kejiwaan seseorang, kenapa bisa menular kepada orang lain? Ketika ada satu orang yang kesurupan, berarti orang itu mengalami disosiasif. Ia nggak kuat lagi menahan semua masalah hidupnya yang selama ini ia pendam. Ia berontak tanpa sadar; marah,meronta, menangis, atau mengaku sebagai embah dari abad ke sepuluh. Ia kesurupan karena ia memang memiliki masalah. Gimana dengan orang lain yang ketularan kesurupan? Apakah mereka memiliki masalah yang sama? Kenapa juga bisa menular? Ketika ada seorang kesurupan, aksi tersebut menyugesti orang lain yang secara kebetulan alam bawah sadarnya juga punya masalah. Maka jadilah histeria massal. Ini sama dengan penonton sepak bola, satu berteriak maka yang lain juga ikut-ikutan berteriak. Jadi ketika ada satu orang yang kesurupan, orang lain yang juga memendam kemarahannya dan sudah nggak tahan, seperti menemukan contoh, menemukan kesempatan untuk melakukan hal yang sama. Mulanya hanya ikut-ikutan, lama kelamaan ia terbawa arus dan bawah sadarnya yang sudah lama ingin marah-marah itu jadi muncul. Jadilah ia juga kesurupan, terus ketika ada banyak orang lain yang memiliki masalah kejiwaan yang sama maka jadilah kesurupan massal.
- Jiwa kita memang gampang tersugesti. Persis seperti pada saat nonton bola, satu berteriak yang lain jadi ikut-ikutan berteriak. Atau seperti pada saat kamu ikutan muhasabah, karena ustadz yang memimpin doa begitu khusyuk dan memancing kesadaran akan dosa maka ada banyak orang ikut menangis. Penularan terjadi karena memang jiwa kita ini gampang terpengaruh.
- Bila kamu marah, jangan tekan kemarahanmu. Salurkan saja! Ada saatnya kemarahan itu disalurkan, ada saatnya juga ditunda dahulu atau disalurkan dalam bentuk lain. Kamu nggak bisa terus-menerus menekan rasa marahmu, atau rasa sedihmu. Kalau mau menangis, menangis saja, nggak usah malu-malu. Tapi harus pada tempat dan waktu yang tepat. Kalau nggak punya kesempatan yang tepat, kamu bisa menyalurkannya dalam bentuk lain. Di Jepang, konon, para pekerja yang kesal sama bosnya akan mampir ke sebuah kafe khusus. Di kafe itu ada sebuah ruangan dengan sebuah boneka/manekin. Pengunjung bisa menempelkan wajah bosnya pada wajah boneka itu. Setelah itu, si pengunjung bisa marah-marah seenaknya, bahkan disediakan pemukul untuk memukul boneka itu sepuas-puasnya. Melalui cara ini, kemarahan para karyawan yang kesal kepada bosnya jadi tersalurkan. Kemarahannya enggak tertekan, namun disalurkan dengan cara seperti itu. Esoknya ia akan merasa lebih fresh, lebih segar. Cara efektif: tuliskanlah seluruh kemarahan kita pada buku harian. Keluarkan semua kekesalan pada halaman-halaman itu, nggak usah ragu menuliskan kata-kata paling kasar. Pokoknya tuliskan semua kekesalan sampai kamu merasa puas. Atau buatlah cerita pendek, tokohnya kamu dan orang yang kamu kesali itu. Lalu buatlah alur cerita yang menceritakan kemenangan kamu atas orang itu. Setelah selesai, bacalah cerita itu keras-keras dan tertawalah sepuas-puasnya sambil membayangkan kemalangan orang itu. Cara luar biasa: Serahkan semua pada Allah.
- Mulanya kerupuk segar dan renyah, lalu setelah kena kuah kerupuk jadi layu dan nggak renyah lagi. Hati juga begitu, mulanya segar dan bersemangat, namun ada kalanya ia akan menjadi lemah dan nggak bergairah. Kalau hati kita sudah nggak bergairah lagi, kita jadi nggak bisa melakukan apa pun. Bawaannya malas dan semuanya jadi buram, nggak punya harapan. Ini berbahaya, karena manusia hidup untuk melakukan sesuatu. Misalnya tugasmu adalah sekolah, pergi ke sekolah, belajar dan belajar. Kalau kamu sudah kena penyakit malas, kamu jadi diam saja atau melakukan tindakan yang nggak bener, akhirnya kamu bisa gagal UN dan putus asa.
- Rasa takut itu berasal dari pikiran. Pikiranmulah yang mendramatisasi apa yang kamu lihat dan apa yang kamu dengar. Misalnya, kalau suatu malam kamu mendengar suara lolongan anjing, saat itu pikirannu mengingat film-film drakula yang memang penuh dengan lolongan anjing, jadilah suara lolongan anjing yang kamu dengar saat itu sama dengan yang ada di film-film drakula. Memang begitulah cara kerja pikiran. Pikiran memberi gambaran yang berlebihan.
- Lawanlah rasa takutmu dengan bukti nyata, jangan biarkan bayangan ketakutan menguasaimu.
- Pikiran akan melakukan sesuatu berdasarkan kebiasaan. Inilah yang disebut lingkaran kenyamanan. Tidak semua pikiran kita bekerja seperti itu, pikiran yang sudah bersih dan sempurna justru bekerja untuk kemuliaan kita. Pikiran yang melempem dan sering membuat kamu gentar ini dinamakan COMMON SENSE. COMMON SENSE kita hanya bekerja berdasarkan kebiasaan. Kebenaran adalah yang telah menjadi kebiasaan. Kalau biasanya malas-malasan, common sense akan bilang pada diri kamu bahwa malas-malasan lah yang benar dan harus dilakukan. COMMON SENSE akan menolak segala upaya yang mengubah kebiasaan. Kalau ada perubahan tindakan yang baru, pikiran kita akan mengeluarkan bunyi alarm: jangan mau, jangan mau; lalu setelah itu seluruh tubuh kamu akan menyambutnya dengan menunjukkan gejala-gejala: lemes, berkunang-kunang, gemeteran, keluar keringat dingin, yang nggak jelas asal muasalnya.
- Pasukan membawa PELINDUNG (tameng) karena mereka sadar akan bahaya.
Karena bahaya yang akan mengancam adalah besi runcing.
"Pasukan itu disebut pemberani atau penakut?"
"Pemberani, buktinya berangkat perang"
"Kalau pemberani, kenapa mereka repot-repot pakai baju besi segala? "
" oh iya, mereka penakut, mestinya mereka menyerang tanpa takut suatu apa pun"
"Kalau penakut, pasti mereka nggak akan pergi perang dong?"
Mereka yang berperang sebenarnya juga memiliki rasa takut, namun mereka telah memperhitungkan apa yang mereka takutkan dan bagaimana menghadapinya. Karena mereka tertusuk panah atau pedang, mereka melindungi diri dengan memakai baju besi. Dengan keyakinan bahwa baju besi itu dapat melindungi dari apa yang mereka takutkan, mereka berani maju ke medan laga.
Saat ada seliweran panah, mereka berkata pada dirinya sendiri 'jangan takut, panah nggak bakal menembus baju besi kita, majulah menyerang.'
Pelindung itu bergantung pada apa yang dianggap bahaya.
Karena ketakutan bersumber dari pikiran, gimana cara ngusir rasa takut yang bersumber dari dalam pikiran?
Untuk itulah surat An-Nas & Al-Falaq menyatakan 'katakanlah aku berlindung kepada...' pada saat itu Al-Qur'an telah memerintahkan kamu untuk berkata 'aku berlindung kepada...' saat kamu menyatakan itu sebenernya pikiran kamu sedang berkata pada dirimu sendiri untuk berlindung kepada Rabb dari bahaya.
Apa cuma dengan berkata, semua ketakutan bakal hilang?
Ya engga semudah itu, namun juga bukan berarti susah.
Ibaratnya pasukan tentara yang sedang berbaris, pasti kamu akan melihat ada satu orang yang komandannya.
Apapun yang dikatakan komandannya itu akan dituruti oleh anggota pasukan, lalu diterjemahkan dalam tindakan-tindakan tertentu.
Misalnya kalau si komandan bilang hormaaat grak lalu semua pasukan akan meletakkan tangannya dengan posisi tertentu.
Begitulah hubungan komandan dan pasukannya, apa yang dikatakan komandan akan dituruti pasukannya dengan tindakan tertentu.
Hubungan itu terjadi pada badan kita.
Kalau kesadaran menyatakan jalan, maka otomatis kakimu melangkah: kalau kesadaranmu menyatakan panas maka mulutmu akan menjerit dan meloncat-loncat.
- Kesadaranmu adalah komandan bagi seluruh anggota badanmu, pikiran yang menerjemahkannya, lalu badanlah yang melakukan apa yang dikatakan penerjemah. Al-Qur'an mengajarkan bahwa cara menghadapi masalah dalam pikiran adalah memberikan kesadaran baru pada diri sendiri. Misalnya dengan mengatakan pada diri sendiri aku berlindung kepada Rabb-nya manusia (Rajanya manusia,dan Ilah nya manusia) dari bahaya yang disebabkan manusia. Dengan mengatakan kata-kata ini, pikiran lalu menerjemahkannya:' jangan takut, kalau kita sudah dapat perlindungan dari Raja-nya manusia pasti seluruh masalah yang disebabkan oleh manusia akan dapat diatasi'. Mendengar itu, badan pun akan tenang: rasa takut jadi menghilang.
- PELINDUNG yang tepat dan kata-kata yang menenangkan hati saling berhubungan. Kalau pun kamu sudah memiliki pelindung namun bila pikiran masih ketakutan, PELINDUNG itu nggak bakal banyak gunanya. Senjata yang canggih nggak akan berguna sedikit pun di tangan orang-orang yang sudah ketakutan. Sebaliknya, kamu bisa saja berulangkali bilang pada dirimu sendiri 'jangan takut..jangan takut... ' namun bila saat itu kamu juga sadar bahwa nggak ada satu pun yang melindungimu, pastilah kamu akan semakin ketakutan. Jadi harus kedua-duanya. "Mana yang harus duluan?" Yakin dulu bahwa kamu sudah memiliki PELINDUNG yang sesuai dengan bahaya yang sedang mengancammu, setelah itu kamu bisa menenangkan dirimu. Pasukan perang zaman baheula itu bisa berani karena ia sudah yakin bahwa baju besinya akan melindung dirinya dari anak panah musuh. Saat itu pikirannya berkata: jangan takut, panah-panah itu nggak bakal menembus baju besi kita kok.. Setelah itu ia berani berperang dibarisan terdepan. Kita nggak bisa langsung mendapatkan ketenangan hanya dengan mengucapkan aku berlindung sebelum meyakini bahwa kita benar-benar dilindungi oleh pelindung kita. Jadi, sebelum menyatakan aku berlindung kepada Allah, kita harus lebih dahulu yakin bahwa Allah benar-benar memberikan perlindungan kepada kita.
- Ketakutanmu terjadi karena bayangan rasa sakit yang akan kamu terima. Yang menjadi sumber bahaya adalah jin dan manusia, mereka berdualah yang menyebabkan adanya 'waswasil khannas' (bisikan-bisikan negatif dari dalam hati yang membuatmu bersembunyi, membuat kamu melempem kayak kerupuk kena kuah bakso) namun manusia juga berbahaya ketika hatinya mau diperintah oleh niat jahat dari jin dan manusia itu. Jadi manusianya sih bisa jahat bisa nggak jahat, tergantung apakah dia mau menuruti bisikan jahat atau ajakan kepada kebaikan. Karena dalam diri kita ada kemungkinan ikut-ikutan jahat atau menjadi baik, makanya kita disuruh berlindung kepada Allah agar kita tidak menjadi orang jahat.
- Kemalasan adalah buah dari waswasil khannas. waswasil khannas adalah bisikan negatif yang membuat kamu menunda-nunda perbuatan baikmu. Jadi, dasarnya pada Al-Qur'an disebutkan bahwa pada dasarnya manusia itu baik banget, tapi ada saja pengaruh dari luar atau dari kemalasannya yang membuat dia berbuat nggak baik. Malas berarti menunda-nunda perbuatan baik, ketika kamu malas berarti kamu mengkhianati dirimu sendiri. Malas itu mengkhianati dirimu, sekaligus mengkhianati kepercayaan Allah padamu. Kalau kamu malas, segera katakan pada dirimu 'jangan-jangan saya sudah dirasuki al-khannas? Bahaya juga nih, jangan-jangan ada banyak jin yang sudah merasuki diri saya... Kalau dibiarkan saya bisa kesurupan. Jangan-jangan jin yang meniupkan al-khannas itu sudah membangun rumah didalam urat nadi saya, kalau dibiarkan bisa beranak pinak disana, dan berkuasa mengarahkan diri saya'.
- Aku jadi merinding ngebayangin kerajaan kemalasan sudah bertahta dalam tubuhku. Aku ingin melawannya.. Aku ingin jadi tuan rumah di tubuhku sendiri, aku nggak mau ada unsur lain yang memengaruhi aktivitasku. Tolongin aku dong, usir penjajah - penjajah itu dari dalam diri.
- Kalau kamu ingin mendapat perlindungan dari Allah, kamu harus menunjukkan bahwa diri kamu memang pantas dilindungi. Seorang raja hanya melindungi rakyatnya, kalau Allah adalah Raja Manusia kamu harus menunjukkan bahwa kamu adalah rakyat-Nya. Kamu harus taat pada perintah dan larangan-Nya, barulah kamu akan dilindungi. Nah... menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya disebut juga ibadah!" Beribadah adalah cara agar kita diakui sebagai hambanya Allah, yang dengan demikian kita akan dilindungi-Nya.
- Setiap manusia itu punya keinginan untuk MEMILIKI dan MENJADI. Pikiran mengarahkan keinginan itu: MAU MEMILIKI APA dan MAU MENJADI SIAPA. Kalau pikiran bilang kamu harus MENJADI dikagumi banyak orang dan uanglah sumber kekaguman orang lain, maka kamu pun hanya mau MEMILIKI uang banyak tanpa peduli bagaimana caranya. Jadilah kamu perampok. Kalau pikiran kamu bilang bahwa kamu harus superstar dengan lenggak lenggok memamerkan keindahan tubuhmu, kamu pun akan melakukan itu. Begitulah seterusnya, PIKIRANLAH YANG MENGARAHKAN KEINGINANMU. Keinginan dan pikiran ini bercampur dengan prinsip hidup masing-masing orang. PRINSIP HIDUP itu adalah anggapan tentang apa yang paling membahagiakan bagi seseorang. Kalau kamu menganggap bahwa yang paling membahagiakan adalah uang, maka kamu akan berusaha memiliki uang dan menjadi orang kaya. Kalau kamu menganggap bahwa yang paling membahagiakan adalah teman maka kamu akan berusaha memiliki banyak teman dan menjadi orang yang solider. Kalau kamu menganggap bahwa yang paling membahagiakan adalah membantu orang miskin, maka kamu akan berusaha MEMILIKI banyak orang yang kamu bantu dan MENJADI penderma. Namun biasanya kita ini nggak punya prinsip, sehingga MENJADI dan MEMILIKI kita, bergantung pada orang-orang di sekitar kita. Kita menjadi bayangan dari orang lain, kita ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain dan menjadi seperti orang lain. Apalagi ketika orang-orang di sekitar kita sengaja memanas manasi kita, mereka nggak sadar bahwa tindakan mereka akan memengaruhi orang lain. Misalnya, ada orang yang sering sekali menonjolkan harta mereka pada orang yang jelas-jelas nggak mampu. Bukannya bersedekah malahan mereka memancing rasa iri pada orang-orang miskin. Akhirnya orang-orang miskin ingin memiliki apa yang dimiliki orang kaya, ingin menjadi orang kaya. Kemudian apa yang terjadi? Orang-orang miskin itu akan mendendam, mungkin akan mencuri, mencelakai orang kaya, atau bahkan mendo'akan hal-hal yang negatif: mereka menjadi hasud yang mewujudkan kehasudannya.
- Tubuh manusia itu seperti keledainya Nasrudin. Keledai itu akan berbunyi kalau tubuhnya kecapean dan merasa lapar, dan juga malas bekerja. Makanya Al-Quran bilang jangan bersuara lebih keras dari keledai, maksudnya bersuara atau berdoa kepada Allah hanya ketika lapar dan sedang susah saja. Lagipula, keledai itu hanya mau melakukan apa yang biasa menjadi kesenangannya.

No comments:
Post a Comment